jump to navigation

Pembiayaan bagi “Petani Tanggung” 5 January 2011

Posted by hortipart in agribisnis, kemitraan.
Tags: ,
trackback

Banyak petani di negara berkembang, termasuk Indonesia, yang usahanya terlalu besar untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan mikro seperti koperasi simpan pinjam, namun juga terlalu kecil untuk mendapatkan pinjaman dari bank komersil. Mereka inilah yang disebut “Petani Tanggung”, yaitu petani yang permohonannya ditolak sana-sini karena ukuran usahanya yang “tanggung”. Akibatnya, untuk mengembangkan usaha, mereka seringkali terpaksa meminjam uang dari lintah darat atau sumber keuangan non-formal dengan bunga yang tinggi.

Untuk mendapatkan pinjaman dari bank komersil, umumnya bank melihat agunan berupa properti, alat usaha, atau modal kerja yang tersedia. Bank melihat ke belakang, dalam arti melihat hasil yang telah dimiliki petani selama ini. Bisa dipahami ketakutan bank bahwa uangnya tidak kembali jika diberikan ke petani yang belum menujukkan kinerjanya.

Jadi, tanpa agunan yang dimiliki, lupakan pinjaman bank, dan selamat bergabung dalam lingkaran setan. Tanpa investasi, petani tidak bisa meningkatkan skala usahanya. Tanpa peningkatan skala usaha, petani tidak akan punya cukup properti, alat usaha, atau modal kerja yang memadai sebagai agunan pinjaman bank. Tanpa pinjaman bank, petani tidak bisa mengembangkan usahanya. Lingkaran setan.

Untuk memutus lingkaran setan, sudah saatnya bank melihat ke depan, yaitu melihat potensi pengembangan usaha petani melalui beberapa komponen di luar agunan material. Beberapa diantaranya yaitu:

  • Kapasitas dan karakter: bagaimana kapasitas petani dalam mengelola lahannya? Apakah mereka memiliki semangat wirausaha? Apakah mereka pernah atau sedang menerima bantuan teknis?
  • Daya saing: apakah petani memahami pasar dan mampu menyesuaikan kualitas dan kuantitas produk-produknya sesuai kebutuhan pasar?
  • Konteks dan rantai nilai: bagaimana peran petani dalam rantai nilai? Apakah ada kontrak jangka panjang dengan pemasok, pengolah, atau pedagang?
  • Sertifikasi: apakah petani bersertifikat, dan apakah sertifikat tersebut mendukung praktek pertanian dan manajemen yang baik? Apakah dengan adanya sertifikat, produk-produk yang dihasilkan dapat dijual dengan harga tinggi?
  • Aliran kas: bagaimana potensi aliran kas petani? Apakah mereka memiliki sistem manajemen keuangan?
  • Kredibilitas: bagaimana rekam jejak keuangan petani selama ini?

Penilaian berdasarkan komponen-komponen di atas akan memberikan pemahaman yang lebih lengkap pada bank mengenai potensi terukur dan tidak terukur yang dimiliki oleh petani. Dengan demikian, “Petani Tanggung” juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan akses finansial dalam mengembangkan usahanya.

Disadur dari: “Making Farmers Bankable”, Farming Matters, vol. 26, iss. 2, page 22-24 

Comments»

1. Lina - 22 April 2012

Saya punya lahan dan modal. Saya minat untuk usaha mangga. Tapi saya blm pernah usaha tanaman buah. Saya lagi cari kemitraan dgn tujuan. 1. Saya punya usaha. 2. Saya diajarin, 3. Kalo panen saya bisa setor dan dibantu pemasarannya. Tolong bantu saya dong. Hub Lina 081327775758

hortipart - 9 July 2012

Bu Lina,

terimakasih sudah mengunjungi blog kami dan mengajukan pertanyaan ini.
Kami bisa menghubungan rencana anda dengan kemitraan dan value chain mangga yang sudah kami bantu.
Bisakah mendapatkan info lebih anjut lewat email kami di hpsp@ina.or.id?

Saya nantikan kabarnya,

salam,

pengelola HPSP


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: