jump to navigation

Logistik untuk Peningkatan Daya Saing Produk Hortikultura 4 October 2012

Posted by hortipart in event, kemitraan, usaha buah, usaha sayuran, UU & Peraturan.
trackback

Catatan Supply Chain Indonesia

Permendag No. 30/2012 tentang Ketentuan Impor Produk Hortikultura telah direvisi menjadi Permendag No. 60/2012 yang ditandatangani pada 21 September 2012. Selain itu, Permentan No. 3/2012 tentang Rekomendasi Impor Produk Hortikultura direvisi menjadi Permentan No. 60/2012 yang ditandatangani pada 24 September 2012.

Perubahan dalam Permendag No. 60/2012 tersebut antara lain adalah penghapusan beberapa pasal yang sebelumnya yang ada di Permendag No. 30/2012. Pasal-pasal tersebut memuat aturan mulai dari keamanan, ketersediaan di dalam negeri, penetapan sasaran produksi dan konsumsi, standar mutu, dan lainnya.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, bapak Suswono

Menteri Pertanian Republik Indonesia, bapak Suswono

Pemerintah batal memberlakukan kebijakan kuota impor produk hortikultura, tetapi hanya mengatur melalui rekomendasi impor. Perubahan lain dalam Permendag yang baru tersebut, importir produsen yang mengimpor bahan baku, tidak perlu lagi menggunakan label ber-Bahasa Indonesia.

Perubahan Permendag tersebut memberikan kelonggaran proses impor produk hortikultura (sayur dan buah), sehingga sangat berpotensi meningkatkan volume sayur dan buah impor yang beredar di pasaran. Hingga saat ini, impor produk hortikultura semakin meningkat setiap tahunnya baik untuk kelompok buah-buahan, sayuran, tanaman hias, dan tanaman obat.

Di lain sisi, kemudahan impor produk hortikultura akan mempengaruhi daya saing produk lokal. Para petani lokal akan merasakan dampak negatif perubahan peraturan tersebut. Daya saing produk hortikultura lokal di dalam negeri terus mengalami ancaman dari produk impor. Beberapa produk buah dan sayur impor bahkan beredar di pasaran dengan harga yang lebih murah dibandingkan produk lokal.

Produk Hortikultura

Produk Hortikultura

Ketergantungan terhadap produk hortikultura impor saat ini cukup tinggi. Survey cepat yang dilakukan Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VI terhadap sejumlah responden pedagang hortikultura di Pulau Jawa menunjukkan adanya ketergantungan tinggi terhadap komoditas hortikultura impor tertentu, seperti bawang putih (80-90%), jeruk (60-70%), wortel (50-55%), apel (50-60%), kentang (45-55%), bawang merah (20-30%), dan cabai (20-25%).

Bawang Putih, ternyata Indonesia masih mengimpornya sebanyak 80 - 90% dari total Bawang Putih yang beredar di pasaran Indonesia

Bawang Putih, ternyata Indonesia masih mengimpornya sebanyak 80 – 90% dari total Bawang Putih yang beredar di pasaran Indonesia

Sebagian besar produk hortikultura Indonesia diimpor dari China (47,1%). Negara asal impor produk hortikultura Indonesia lainnya adalah Thailand (12,9%), AS (8,3%), India (5,1%), dan Australia (3,2%).

Perubahan paradigma pembangunan pertanian

Keberpihakan terhadap produk hortikultura lokal sangat diperlukan, termasuk dukungan dari aspek regulasi. Namun demikian, hal ini semakin sulit dilakukan di tengah arus globalisasi dan perdagangan bebas dunia.

Ancaman terhadap produk lokal akan bisa diatasi terutama dengan meningkatkan daya saingnya. Upaya peningkatan daya saing tidak hanya cukup dengan memperhatikan aspek produksi atau budi daya pertanian. Perekonomian global dan persaingan dalam perdagangan bebas mengharuskan perubahan paradigma dari aspek produksi ke aspek logistik dan rantai pasok (supply chain) pertanian tersebut.

Selama ini, pembangunan sektor pertanian diarahkan terutama untuk meningkatkan produktivitas dan perluasan areal produksi. Peningkatan volume hasil panen terbukti tidak dapat memberikan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Ketika hasil panen meningkat seringkali harga jatuh, bahkan dalam beberapa kasus petani sampai membuang hasil panennya. Di lain sisi, sering terjadi kelangkaan produk pertanian di beberapa wilayah yang berdampak terhadap lonjakan harga yang tinggi. Pada kasus ini pun, seringkali petani tidak menjadi pihak yang mendapatkan keuntungan.

Perbaikan sistem distribusi produk pertanian, termasuk hortikultura, perlu mendapat perhatian lebih serius. Perencanaan saluran distribusi harus dilakukan secara baik dengan mengintegrasikan proses-proses bisnis di antara para pelaku. Penggunaan mobil berpendingin (coolbox) menjadi salah satu alternatif, terutama berkaitan dengan waktu transportasi yang lama akibat kemacetan. Fasilitas-fasilitas distribusi harus dibangun sepanjang aliran produk, termasuk pembangunan sub terminal agro (STA) beserta fasilitas dan peralatannya, seperti cool storage, yang sangat diperlukan untuk produk hortikultura. Selain itu, metode cross-docking dan overnight shipping bisa menjadi alternatif penting untuk digunakan.

Contoh gambar Coolbox yang biasa dipergunakan

Contoh gambar Coolbox yang biasa dipergunakan

Infrastruktur

Harga produk hortikultura lokal menjadi mahal terutama karena biaya transportasi yang tinggi. Biaya transportasi ini mencakup semua biaya yang harus dikeluarkan untuk pengiriman produk hortikultura dari sentra produksi sampai ke pasar atau pedagang/pengecer. Persentase biaya transportasi terhadap harga produk hortikultura cukup tinggi karena nilai produk ini relatif rendah.

Contoh kegiatan logistik pertanian Indonesia

Contoh kegiatan logistik pertanian Indonesia

Biaya transportasi yang tinggi tidak terlepas dari ketersediaan infrastruktur di Indonesia yang terkendala masalah pendanaan. Infrastructure consumption Indonesia hanya sebesar 2,3% dari total anggaran (perbandingan: China 7,3%; India 9,9%; dan Thailand 15,6%). Anggaran untuk infrastruktur yang tersedia hanya sekitar Rp 616,7 triliun atau sebesar 32% dari total kebutuhan hingga tahun 2014 yang sebesar Rp 1.923 triliun. Dengan keterbatasan anggaran tersebut, Indonesia sulit sekali membangun dan mengembangkan infrastrukturnya untuk mendukung sistem logistik sebagai penopang pertumbuhan industri dan ekonomi, termasuk untuk sektor pertanian.

Penanganan produk

Produk hortikultura bersifat mudah rusak (perishable), sehingga perlu penanganan khusus, mencakup penanganan di sentra produksi (pasca panen), dalam proses pengiriman, dan di tempat tujuan.

Secara umum, proses penanganan produk hortikultura di Indonesia masih kurang baik. Hal ini berdampak terhadap tingkat kerusakan produk yang tinggi hingga mencapai kisaran 40%. Kerusakan produk ini akan dibebankan kepada produk yang terjual (kondisi baik), sehingga harga produk menjadi mahal.

Salah satu unsur penting dalam sistem logistik adalah pasokan, baik mengenai volume maupun kesinambungannya. Faktor kesinambungan menjadi masalah kritis untuk produk hortikultura yang menjadi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun. Salah satu kelemahan produk hortikultura lokal adalah masa produksinya yang sangat tergantung musim. Perlu diupayakan agar pasokan dapat dilakukan sepanjang tahun seperti produk hortikultura impor melalui modernisasi teknologi budi daya dan penanganan produknya.

Salam,

SUPPLY CHAIN INDONESIA

http://www.SupplyChainIndonesia.com

Comments»

1. artikel bisnis - 12 February 2014

wah artikel holtikulturanya bagus banget., saya sangat suka sekali


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: